ALI RIDHO LAPATAU
Loading...

Rabu, 05 Januari 2011

AYO KE POLEWALI MANDAR

Polewali Mandar merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi Barat, Di sinilah aku sekarang tinggal dan bekerja… berikut sekilas tentang kabupaten polman…
Sulawesi Barat adalah provinsi pengembangan dari Provinsi Sulawesi Selatan yang dibentuk pada tahun 2004 dengan ibukota Mamuju, terdiri atas Kabupaten Polewali Mandar, Mamasa, Majene, Mamuju, dan Mamuju Utara. Penduduknya terdiri dari suku Mandar, Toraja, Bugis, Jawa, Makassar dan lainnya. Terdapat enam bahasa daerah yang umum digunakan, masing-masing Mandar, Toraja, Bugis, Makasar, Jawa dan Bali. Suku Mandar adalah pelaut-pelaut yang ulung, ketika berlayar mereka bersikap pantang menyerah.
Provinsi ini memiliki kekayaan sumber daya alam yang bervariasi mulai pertambangan emas, batubara, dan minyak bumi, bidang pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan, serta hasil kehutanan, dan kelautan. Selain kakao, daerah ini juga dikenal sebagai penghasil kopi robusta atau kopi arabika, kelapa, dan cengkeh.
Daya tarik wisata yang berkembang Pantai Manakarra di Kota Mamuju dan Pantai Palippis di Kabupaten Polewali Mandar yang menghadap langsung ke Pulau Kalimantan. Obyek unik di pantai Polewali yang dapat dilihat wisatawan adalah kegiatan pembuatan perahu Sandeq khas masyarakat suku Mandar. Selain itu, terdapat acara tahunan pada saat Maulid Nabi, berupa Pesta Adat Sayyang Pattudu yang merupakan acara untuk bersyukur bagi anak-anak suku Mandar yang telah khatam Al-Quran. Acara ini dilakukan dengan cara arak-arakan berkeliling  menggunakan kuda.
Provinsi ini dapat dicapai melalui empat pelabuhan laut yaitu Belang-belang, Polewali, Majene, dan Mamuju, atau melalui jalan darat dari Makassar.
ADA APA SAJA???

A. Sayyang Pattudu

Sayyang Pattudu (kuda menari), begitulah masyarakat suku Mandar, Sulawesi Barat menyebut acara yang diadakan dalam rangka untuk mensyukuri anak-anak yang khatam (tamat) Al-Qur‘an. Bagi warga suku Mandar, tamatnya anak-anak mereka membaca 30 juz Al-Quran merupakan sesuatu yang sangat istimewa, sehingga perlu disyukuri secara khusus dengan mengadakan pesta adat Sayyang Pattudu. Pesta ini biasanya digelar sekali dalam setahun, bertepatan dengan bulan Maulid/Rabi‘ul Awwal (kalender Hijriyah). Pesta tersebut menampilkan atraksi kuda berhias yang menari sembari ditunggangi anak-anak yang mengikuti acara tersebut.
Bagi masyarakat Mandar, khatam Al-Qur‘an dan acara adat Sayyang Pattudu memiliki pertalian erat antara satu dengan lainnya. Acara ini tetap mereka lestarikan dengan baik, bahkan masyarakat suku Mandar yang berdiam di luar Sulawesi Barat dengan sukarela akan kembali ke kampung halamannya demi mengikuti acara tersebut. Penyelenggaran pesta adat ini sudah berlangsung cukup lama, tetapi tidak ada yang tahu pasti kapan pertama kali dilaksanakan. Jejak sejarah yang menunjukkan awal pelaksanaan kegiatan sampai sekarang juga belum terdeteksi oleh para sejarawan dan tokoh masyarakat.

Keistimewaan

Puncak acara khatam Al-Qur‘an dengan menggelar pesta adat Sayyang Pattudu memiliki daya tarik tersendiri. Acara ini diramaikan dengan arak-arakan kuda mengelilingi desa yang dikendarai oleh anak-anak yang telah menyelesaikan khatam Al Quran. Setiap anak mengendarai kuda yang sudah dihias sedemikian rupa. Kuda-kuda tersebut juga sudah terlatih untuk mengikuti irama pesta dan mampu berjalan sembari menari mengikuti iringan musik, tabuhan rebana, dan untaian pantun khas Mandar yang mengiringi arak-arakan tersebut.
Ketika duduk di atas kuda, para peserta yang ikut Sayyang Pattudu akan mengikuti tata atur baku yang berlaku secara turun temurun. Dalam Sayyang Pattudu, para peserta duduk dengan satu kaki ditekuk ke belakang, lutut menghadap ke depan, sementara satu kaki yang lainnya terlipat dengan lutut dihadapkan ke atas dan telapak kaki berpijak pada punggung kuda. Dengan posisi seperti itu, para peserta didampingi agar keseimbangannya terpelihara ketika kuda yang ditunggangi menari. Peserta Sayyang Pattudu akan mengikuti irama liukan kuda yang menari dengan mengangkat setengah badannya ke atas sembari menggoyang-goyangkan kaki dan menggeleng-gelengkan kepala agar tercipta gerakan yang harmonis dan menawan.
Ketika acara sedang berjalan meriah, tuan rumah dan kaum perempuan sibuk menyiapkan aneka hidangan dan kue-kue untuk dibagikan kepada para tamu. Ruang tamu dipenuhi dengan aneka hidangan yang tersaji di atas baki yang siap memanjakan selera para tamu yang datang pada acara tersebut.
Rangkaian acara tahunan ini, biasanya diikuti lebih dari 50 peserta tiap tahunnya. Biasanya, para peserta terhimpun dari berbagai kampung yang ada di desa tersebut. Diantara para peserta ada yang datang khusus dari desa sebelah, bahkan ada juga yang datang dari luar kabupaten, maupun luar Provinsi Sulawesi Barat.

Lokasi

Pesta adat Sayyang Pattudu biasanya diadakan di Desa Karama, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Indonesia.

Akses

Untuk mencapai lokasi, para wisatawan dapat menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Untuk menuju lokasi, perjalanan dapat dimulai dari Bandara Tampa Padang yang terletak di Kota Mamuju. Dari bandara tersebut perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kota Polewali Ibu Kota Kabupaten Poleweli Mandar, Sulawesi Barat dengan waktu tempuh 1 jam 30 menit. Setelah sampai di Kota Poleweli, kemudian perjalanan dilanjutkan ke lokasi yang berjarak sekitar 52 km dengan waktu tempuh sekitar 45 menit.

Harga Tiket

Tidak di pungut biaya.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di Desa Karama, tempat pesta adat ini dilaksanakan, belum ada hotel untuk menginap bagi para wisatawan yang datang dari luar daerah. Tapi tidak usah gundah, sebab masyarakat setempat membuka pintu rumah mereka bagi tamu yang datang ke daerah tersebut untuk menyaksikan pesta adat Sayyang Pattudu. Begitu juga untuk makanan, para wisatawan akan mendapatkan suguhan yang memuaskan dengan beraneka makanan yang disediakan oleh tuan rumah untuk menyambut tamu.
Info HOTEL  di Polewali Mandar:
  1. Hotel Ratih GUEST HOUSE MELATI Jl. Achmad Yani No. 91 Polewali  (62-428 ) 213 57
  2. Hotel Lilianto Jl. Achmad Yani  di  Polewali
  3. WISMA DIRJA Jl. Olahraga No. 16 Polewali     (62-428 ) 212 92
  4. MAMASA COTTAGE Jl. Mamasa Polewali
  5. LOSMEN MERY Jl. Mesjid Jami No. 5 Polewali. (62-428 ) 211 44 POLEWALI
  6. INDAH HOTEL Jl. Mangundang No. 30 Polewali     (62-428 ) 214 37.
  7. Dan beberapa hotel Lain disekitar Pusat Perkantoran Pemerintah Polewali dan juga Pusat Perdagangan Wonomulyo  yang jaraknya dari Polewali sekitar 20 menit.
div>            <h3><b><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">A. Selayang Pandangspan>b>h3>    <p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Sayyang Pattudu (kuda menari), begitulah masyarakat suku Mandar,  Sulawesi Barat menyebut acara yang diadakan dalam rangka untuk mensyukuri anak-anak  yang khatam (tamat) Al-Qur‘an. Bagi warga suku Mandar, tamatnya anak-anak  mereka membaca 30 juz Al-Quran<i> i>merupakan sesuatu yang sangat istimewa, sehingga  perlu disyukuri secara khusus dengan<i> i>mengadakan pesta adat<i> i>Sayyang  Pattudu<i>.i> Pesta ini<strong><span style="font-family: Verdana; font-weight: normal;"> biasanya digelar sekali dalam setahun, bertepatan  dengan bulan Maulid/<i>Rabi‘ul Awwali> (kalender Hijriyah). Pesta tersebut menampilkan  atraksi kuda berhias yang menari sembari ditunggangi anak-anak yang mengikuti  acara tersebut.span>strong>span>p><p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;">    p><p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Bagi masyarakat  Mandar, khatam Al-Qur‘an dan acara adat Sayyang Pattudu memiliki pertalian erat  antara satu dengan lainnya. Acara ini tetap mereka lestarikan dengan baik,  bahkan masyarakat suku Mandar yang berdiam di luar Sulawesi Barat dengan  sukarela akan kembali ke kampung halamannya demi mengikuti acara tersebut. Penyelenggaran  pesta adat ini sudah berlangsung cukup lama, tetapi tidak ada yang tahu pasti kapan  pertama kali dilaksanakan. Jejak sejarah yang menunjukkan awal pelaksanaan  kegiatan sampai sekarang juga belum terdeteksi oleh para sejarawan dan tokoh  masyarakat.span>p>    <h3><b><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">B. Keistimewaanspan>b>h3>    <p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Puncak acara khatam Al-Qur‘an dengan menggelar pesta adat Sayyang  Pattudu memiliki daya tarik tersendiri. Acara ini diramaikan dengan arak-arakan  kuda mengelilingi desa yang dikendarai oleh anak-anak yang telah menyelesaikan khatam  Al Quran. Setiap anak mengendarai kuda yang sudah dihias sedemikian rupa.  Kuda-kuda tersebut juga sudah terlatih untuk mengikuti irama pesta dan mampu  berjalan sembari menari mengikuti iringan musik, tabuhan rebana, dan untaian  pantun khas Mandar yang mengiringi arak-arakan tersebut. span>p>    <p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Ketika duduk di atas kuda<i>,i> para peserta<i> i>yang ikut<i> i>Sayyang  Pattudu akan mengikuti tata atur baku  yang berlaku secara turun temurun. Dalam Sayyang Pattudu, para peserta duduk  dengan satu kaki ditekuk ke belakang, lutut menghadap ke depan, sementara satu  kaki yang lainnya terlipat dengan lutut dihadapkan ke atas dan telapak kaki  berpijak pada punggung kuda. Dengan posisi seperti itu, para peserta didampingi  agar keseimbangannya terpelihara ketika kuda yang ditunggangi menari. Peserta Sayyang  Pattudu<strong><span style="font-family: Verdana; font-weight: normal;"> akan span>strong>mengikuti irama liukan kuda yang  menari dengan mengangkat setengah badannya ke atas sembari menggoyang-goyangkan  kaki dan menggeleng-gelengkan kepala agar tercipta gerakan yang harmonis dan  menawan.span>p>    <p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Ketika acara sedang berjalan meriah, tuan rumah dan kaum perempuan sibuk  menyiapkan aneka hidangan dan kue-kue untuk dibagikan kepada para tamu. Ruang  tamu dipenuhi dengan aneka hidangan yang tersaji di atas baki yang siap memanjakan  selera para tamu yang datang pada acara tersebut.<b>b>span>p>    <p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Rangkaian acara tahunan ini, biasanya diikuti lebih dari 50 peserta tiap  tahunnya. Biasanya, para peserta terhimpun dari berbagai kampung yang ada di  desa tersebut. Diantara para peserta ada yang datang khusus dari desa sebelah, bahkan  ada juga yang datang dari luar kabupaten, maupun luar Provinsi Sulawesi Barat.span>p>        <h3><b><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">C. Lokasispan>b>h3>    <p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Pesta adat Sayyang Pattudu biasanya diadakan di Desa Karama, Kecamatan  Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, <st1:country-region w:st="on">Indonesiast1:country-region>.<b>b>span>p>    <h3><b><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">D. Aksesspan>b>h3>    <p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Untuk mencapai lokasi, para wisatawan dapat menggunakan angkutan umum  atau kendaraan pribadi. Untuk menuju lokasi, perjalanan dapat dimulai dari  Bandara Tampa Padang yang terletak di Kota Mamuju. Dari bandara tersebut perjalanan  kemudian dilanjutkan ke Kota Polewali Ibu Kota Kabupaten Poleweli Mandar,  Sulawesi Barat dengan waktu tempuh 1 jam 30 menit. Setelah sampai di Kota Poleweli,  kemudian perjalanan dilanjutkan ke lokasi yang berjarak sekitar 52 km dengan  waktu tempuh sekitar 45 menit. span>p>    <h3><b><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">E. Harga Tiketspan>b>h3>    <p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Tidak di pungut biaya.span>p>    <h3><b><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnyaspan>b>h3>    <p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 9pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Di Desa Karama, tempat pesta adat ini dilaksanakan, belum ada hotel  untuk menginap bagi para wisatawan yang datang dari luar daerah. Tapi tidak  usah gundah, sebab masyarakat setempat membuka pintu rumah mereka bagi tamu  yang datang ke daerah tersebut untuk menyaksikan pesta adat Sayyang Pattudu.  Begitu juga untuk makanan, para wisatawan akan mendapatkan suguhan yang  memuaskan dengan beraneka makanan yang disediakan oleh tuan rumah untuk  menyambut tamu.span>p>

B. PANTAI PHALIPPIS

Jika wisatawan berkunjung ke Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, belum lengkap rasanya jikalau tidak singgah di Pantai Palippis. Pantai yang terletak di sisi jalan umum yang menghubungkan beberapa kota di Provinsi Sulawesi Barat dan berada sekitar 20 km dari Kota Polewali ini memiliki panorama alam yang menarik.
Pantai Palippis menyuguhkan keindahan panorama pantai dengan pemandangan laut lepas. Pantai ini berada di sisi barat Pulau Sulawesi dan berhadapan langsung dengan laut yang memisahkan antara Pulau Sulawesi dengan pulau Kalimantan dan Pulau Jawa. Laut yang membentang luas ini menyuguhkan pemandangan tanpa batas dengan gulungan ombak yang berderu.
Selain keindahan pantai dan pemandangan laut, Pantai Palippis didukung panorama alam yang lain di sekitarnya, seperti gua kelelawar dan hamparan tebing batu karang. Gua kelelawar tersebut terletak di atas bukit yang membentang tidak jauh dari bibir pantai. Sementara itu, hamparan tebing batu karang membentang tidak begitu jauh dari mulut gua kelelawar.

Keistimewaan

Pantai Palippis membentang sepanjang 3 km di sebelah barat Pulau Sulawesi. Hal ini memberikan keleluasaan bagi para wisatawan yang datang ke pantai tersebut untuk bermain, berlarian, atau menyongsong deburan ombak di sepanjang bibir pantai. Dan yang tidak kalah menarik, apalagi bagi kalangan muda-mudi, di pantai ini para wisatawan dapat bercengkrama sembari menyaksikan tenggelamnya matahari di ufuk barat.
Di samping menikmati panorama pantai, para pelancong juga dapat menyaksikan batu karang yang membentuk tebing-tebing curam. Lawuang adalah nama sebuah tebing batu karang yang memanjang di samping kawasan Pantai Palippis. Hamparan batu karang yang langsung menghadap ke laut lepas tersebut memiliki daya tarik eksotik. Apalagi, tebing tersebut berdiri menyerupai ngarai yang curam, berbelok-belok, terjal dengan ketinggian antara 30—80 meter. Tentunya, ini akan menjadi tantangan yang menarik bagi mereka yang mencintai dunia panjat tebing untuk menaklukkan angkuhnya batu karang yang berdiri tinggi menjulang.
Tidak jauh dari bibir pantai atau di sebelah tebing, terdapat sebuah gua yang dihuni oleh ribuan kelelawar. Kawasan tersebut menjadi satu dengan Pantai Palippis, sehingga para wisatawan dapat menikmati panorama gua tersebut sembari berwisata pantai dengan hanya satu kali bayar saja.
Yang lebih menyenangkan lagi, ketika mengunjungi pantai ini wisatawan dapat melihat dari dekat pembuatan perahu sandeq khas masyarakat suku Mandar. Para wisatawan dapat mengetahui secara lengkap proses pembuatan perahu dari para pengrajin di sentra-sentra pembuatan perahu sandeq.

Lokasi

Objek wisata Pantai Palippis terletak di Desa Bala, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, Indonesia.

Akses

Untuk menuju lokasi, perjalanan dapat dimulai dari Bandara Tampa Padang yang terletak di Kota Mamuju. Dari bandara tersebut perjalanan dilanjutkan ke Kota Polewali, Ibu Kota Kabupaten Polewali Mandar dengan waktu tempuh kira-kira 1 jam 30 menit dengan menggunakan angkutan umum (bus) atau mobil pribadi. Setelah sampai di Kota Polewali, kemudian perjalanan dilanjutkan ke Pantai Palippis menggunakan angkutan kota dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Tidak jauh dari bibir pantai terdapat pondokan kecil tempat bersantai bagi wisatawan yang lelah sehabis bermain. Tidak jauh dari pondokan tersebut terdapat beberapa kamar mandi dan WC yang dapat dimanfaatkan untuk mandi setelah selesai berenang di laut atau setelah bermain pasir. Bagi para wisatawan yang datang ke Pantai menggunakan mobil pribadi, tersedia area parkir yang cukup luas.
Untuk kebutuhan makan dan minum, di sekitar bibir pantai terdapat beberapa warung yang menyediakan menu makanan tradisional setempat, seperti buras tarrean, jepa tarrean, songkolo tarrean, bubur tarrean, serta ikan bakar.

C. Perahu Sandeq

Sandeq merupakan sebutan untuk perahu layar tradisional khas masyarakat suku Mandar, yang sentra pembuatannya terdapat di Desa Bala, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Perahu ini memiliki panjang lambung sekitar 7—11 meter dan lebar 60—80 sentimeter, dan di samping kiri-kanannya dipasang cadik dari bambu sebagai penyeimbang. Dilihat secara sekilas, perahu ini terkesan rapuh dan mudah rusak ketika melawan ombak. Tetapi, kenyataannya perahu sandeq punya kekuatan yang luar biasa. Tercatat pada masa lampau, perahu tersebut mampu berlayar ke beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai ke Madagaskar. Menurut Horst H Liebner, peneliti sandeq asal Jerman, perahu sandeq merupakan perahu tradisional tercepat yang pernah ada di Austronesia. Perahu ini juga dikenal memiliki ketangguhan dalam menghadapi angin dan gelombang saat mengarungi laut lepas.
Hal ini menunjukkan, bahwa para pembuat perahu sandeq sangat cermat dalam merancang dan membuat perahu ini. Hal tersebut tidaklah berlebihan, karena masyarakat suku Mandar sangat memperhatikan proses pembuatannya dengan baik. Misalnya, pembuatan tiap perahu membutuhkan waktu antara 1,5 sampai 2 bulan. Karena lamanya waktu pembuatan tersebut, maka perahu yang dihasilkan pun memiliki kualitas yang bagus.
Perahu Sandeq umumnya digunakan oleh masyarakat suku Mandar untuk menangkap ikan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat perlahan-lahan beralih menggunakan perahu bermesin. Kondisi tersebut membuat keberadaan perahu sandeq mulai tergeser dari masyarakat suku Mandar. Hal itu juga berimbas pada para pengrajin perahu sandeq yang ada di sentra pembuatan perahu tersebut. Para pengrajin mulai kehilangan mata pencaharian karena pesanan pun mulai sepi. Terkadang pada waktu-waktu tertentu para pengrajin terpaksa sementara beralih profesi guna mencukupi kebutuhan hidup keluarga mereka.
Selain digunakan untuk menangkap ikan, perahu sandeq juga digunakan untuk perlombaan yang diadakan sekali setahun di Pantai Manakarra Provinsi Sulawesi Barat tepat pada tanggal 17 Agsutus yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekan RI. Biasanya, menjelang perlombaan pesanan kembali mengalir ke sentra pembuatan perahu sandeq baik dari masyarakat Sulawesi Barat maupun dari luar daerah, bahkan ada juga yang datang dari luar negeri, seperti Australia, Singapura, Malaysia, dan lain-lain. Hal ini, tentunya membangkitkan kembali geliat usaha pembuatan perahu sandeq. Para pengrajin kembali bersemangat untuk membuat perahu. Terkadang para pengrajin menambah tenaga baru untuk pembuatan perahu agar dapat menyelesaikan pesanan tepat pada waktunya.

Keistimewaan

Pembuatan perahu sandeq tergolong unik, mulai dari awal sampai akhir. Proses pembuatan perahu dimulai dengan pemilihan bahan baku. Biasanya masyarakat setempat memilih jenis pohon kanduruang mamea yang sudah berumur tua. Jenis pohon ini jikalau sudah tua bila diolah untuk berbagai keperluan bisa bertahan lama dari segala terpaan cuaca. Pemilihan pohon yang berumur tua juga dikaitkan dengan perhatian masyarakat suku Mandar terhadap lingkungan dan alam sekitarnya dan menghindari penebangan tidak beraturan yang dapat menyebabkan rusaknya ekosistem hutan. Dengan cara ini, kelestarian alam tetap terjaga dan masyarakat terbebas dari ancaman bencana.

Proses penebangan pohon
Sumber Foto: www.panyingkul.com – Muhammad Ridwan Alimuddin
Agar selama kegiatan penebangan pohon masyarakat mendapat izin dan restu dari alam dan penghuni hutan, maka dilakukan bebarapa ritual pembacaan doa dan mantra yang dipanjatkan pada makhluk halus dalam rangka membersihkan lokasi penebangan kayu. Ritual ini dilakukan di sekitar pohon yang hendak ditebang agar masyarakat terbebas dari gangguan jin dan makhluk halus. Kegiatan ini dilakukan pada saat pemilihan dan penentuan pohon yang hendak ditebang. Pesan yang disampaikan melalui ritual ini adalah pohon yang hendak ditebang dan akan digunakan haruslah bersih, baik secara lahir maupun secara spiritual.
Selanjutnya, ritual pembacaan doa dan mantra yang khusus ditujukan bagi penghuni hutan dan pohon agar memberi izin pada mereka untuk mengambil pohon. Kemudian dilanjutkan dengan ritual pembacaan doa dan mantra untuk memohon kesediaan pada si pohon untuk ditebang. Setelah selesai, maka dilanjutkan dengan membaca doa dan mantra untuk membuat batang kayu menjadi lunak agar mudah ditebang. Ini dilakukan sebelum batang kayu dirobohkan menggunakan alat, seperti gergaji atau kapak. Ritual diakhiri dengan pembacaan doa dan mantra memohon izin pada penunggu hutan agar merelakan kayu yang telah diolah untuk dibawa keluar dari hutan.
Pembuatan perahu biasanya melewati beberapa tahap dan tiap-tiap tahapan dikerjakan dengan hati-hati agar hasilnya sempurna. Ada beberapa tahapan yang dilaksanakan pada pembuatan perahu, di antaranya tahap persiapan, pemotongan kayu, pembuatan calon perahu, dan pembuatan perahu. Pada tahap persiapan ini, para pengrajin biasanya terlebih dahulu mempersiapkan beberapa kebutuhan, seperti pemilihan peralatan yang digunakan, menghubungi orang yang ahli dalam bidang pembuatan perahu, dan pemilihan pohon yang akan ditebang untuk bakal perahu. Tahap yang paling lama adalah pemilihan dan penebangan kayu sebelum diolah menjadi bakal perahu. Hal ini berhubungan dengan tradisi masyarakat setempat untuk menghormati pohon, sehingga acara ritual dan upacara adat berlangsung cukup panjang bila dibandingkan dengan proses penebangan dan pengolahan kayu itu sendiri.

Selesai pembuatan bakal Perahu
Sumber Foto: www.panyingkul.com – Muhammad Ridwan Alimuddin
Sebelum pembuatan perahu, masyarakat setempat atau para pengrajin bermusyawarah untuk menentukan waktu yang tepat guna melaksanakan rencana tersebut. Biasanya, mereka memilih waktu yang dianggap baik, yaitu hari ke-15 berdasarkan kalender Hijriah (kalender Islam). Masyarakat suku Mandar meyakini waktu itulah saat yang tepat untuk memulai proses pembuatan perahu.
Pembuatan perahu sandeq juga diiringi dengan aneka ritual, seperti ritual adat dan pembacaan mantra-mantra selama berlangsungnya pembuatan perahu. Biasanya, masyarakat setempat melakukan hal itu dengan harapan agar proses pembuatan perahu bisa berjalan dengan lancar dan mereka terbebas dari bencana. Prosesi pembacaan doa dan mantra tersebut, berkaitan erat dengan tata krama manusia terhadap alam semesta, penghuni hutan, dan penunggu pohon (menurut keyakinan masyarakat suku Mandar).

Lokasi

Para pengrajin yang membuat perahu sandeq dapat dijumpai di Desa Bala, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, Indonesia.

Akses

Untuk mencapai lokasi, para wisatawan dapat menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Untuk menuju lokasi, perjalanan dapat dimulai dari Bandara Tampa Padang yang terletak di Kota Mamuju. Dari bandara tersebut perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kota Polewali Ibu Kota Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat dengan waktu tempuh 1 jam 30 menit. Setelah sampai di Kota Polewali, kemudian perjalanan dilanjutkan ke lokasi yang berjarak sekitar 20 km dengan waktu tempuh sekitar 30 menit menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi.

Harga Tiket

Tidak dipungut biaya.
Info HOTEL  di Polewali Mandar:
  1. Hotel Ratih GUEST HOUSE MELATI Jl. Achmad Yani No. 91 Polewali  (62-428 ) 213 57
  2. Hotel Lilianto Jl. Achmad Yani  di  Polewali
  3. WISMA DIRJA Jl. Olahraga No. 16 Polewali     (62-428 ) 212 92
  4. MAMASA COTTAGE Jl. Mamasa Polewali
  5. LOSMEN MERY Jl. Mesjid Jami No. 5 Polewali. (62-428 ) 211 44 POLEWALI
  6. INDAH HOTEL Jl. Mangundang No. 30 Polewali     (62-428 ) 214 37.
  7. Dan beberapa hotel Lain disekitar Pusat Perkantoran Pemerintah Polewali dan juga Pusat Perdagangan Wonomulyo  yang jaraknya dari Polewali sekitar 20 menit.

0 komentar:

Poskan Komentar

Beri koment dong, karena komentar anda sangat bermanfaat buat perkembangan blog kami
Terima kasih.

Bhalanipa Mandar. Diberdayakan oleh Blogger.
Powered by Blogger